Senin, 03 Januari 2011

Surat Cinta Untuk Indonesia



Sebenarnya telah lama pemikiran untuk masa depan muncul dibenak kepala. Namun, entah apa yang membuat raga tak mampu bersua hanya sekedar untuk menulis catatan singkat yang mungkin kiranya dapat membuat perubahan lebih baik di Indonesia tanah tumpah darahku ini.
Sejenak kembali merenung, kembali mengingat akan apa saja yang harus segera dibenahi dimuka bumi pertiwi ini. Awal kata, Ekonomi. Mungkin fakta telah menunjukan bahwa ekonomi Indonesia akan menjadi peringkat ke-7 dunia (kalau tidak salah, sedikit lupa.). Lepas dari itu semua, nyatanya masih banyak warga negara Indonesia yang masih berada pada garis kemiskinan. Masih tertinggal (sangat) jauh dari kalangan-kalangan berdasi. Ironi, satu kata melihat pemandangan tersebut.
Indonesia mungkin dapat mengambil tindakan dengan mengambil seluruh hasil korupsi Gayus untuk disebar luaskan secara merata kepada daerah-daerah untuk meningkatkan kehidupan ekonomi mereka. Kalaupun masih sulit untuk itu, dana korupsi tersebut lebih baik diasumsikan pada dunia pendidikan Indonesia. Tentunya, tanpa diikuti korupsi pula. Mungkin menteri ekonomi kita akan lebih paham tentang bagaimana cara agar Indonesia secara keseluruhan mendapat kesejahteraan yang adil untuk segala kalangan.
Jauh dari itu kita lihat perkembangan pertahanan Indonesia yang notabeninya mempunyai puluhan juta prajurit baik dari TNI maupun Polri. Setidaknya dari jumlah dan fasilitas yang sedang diperbaharui dapat meningkatkan kekuatan Indonesia dalam bidang keamanan dan ketentraman negara. Melihat dari itu, latihan-latihan yang dilakukan juga diharapkan tidak membuat kematian bagi para pejuang sebelum mereka benar-benar berjuang. Pertahanan kita dapat kita kokohkan sehingga tak ada lagi rayap-rayap yang dapat merontokan ketahanan yang ada.
Keamanan yang ada tak lantas cukup hanya di garis batas negara dari ujung barat ke timur dan dari selatan ke utara, melainkan dikondisikan pula didalam negeri agar tidak terjadi pertikain antar suku ataupun ras, kejahatan baik pembunuhan maupun perbuatan asusila serta para tikus-tikus negara dapat dibabat habis dengan racun yang ada.
Telah lama, ketika perusahan-perusahan besar yang menaungi kekayaan alam Indonesia dikuasai negara lain, hendaknya pihak Indonesia mampu mengalih tugaskan mereka dengan otak-otak jenuis Indonesia yang ada. Jangan pernah biarkan masyarakat kecil yang ada hanya sebagai babu-babu yang tak pernah disiram dengan pendidikan oleh para pemimpinnya. Mereka selalu dihalang-halangi untuk menjadi pintar. Itu salahnya.
Kepedulian yang ada juga untuk para Einsten-Einsten Indonesia yang lebih memilih di luar negeri karena mereka akan mendapat fasilitas yang memadai untuk mengembangan kemampuan mereka serta yang paling penting mereka dihargai disana. Sedangkan di tanah air mereka, mereka malah diacuhkan. Dilirik ketika membawa nama besar Indonesia di kancah dunia. Dan dislentik ketika masanya Berjaya sudah tak ada. Dan itu yang seharunya menjadi pemikiran tersendiri untuk  petinggi-petinggi negara ini.
Melihat semua itu, kita tengok pada dunia perfilman Indonesia. Adakah sinetron Indonesia yang tidak hanya mengejar rating? Entahlah,. Jawabannya ada pada produser-prosduser kita. Mereka lebih sering memunculkan karakter yang terlalu dilebih-lebihkan dan jauh dari karakter bangsa Indonesia. Setidaknya itu bisa kita lihat, ketika suatu sinetron menampilkan siswa-siswi bersekolah menggunakan pakaian yang kurang bahan dan malah terkesan urakan –bukan anak berpendidikan. Salahkah ketika kita miris akan media massa yang masih berkenan menampilkan hal-hal yang tidak seharunya?
Mungkin sebagian sinetron ini adalah contoh kecil yang ada. Namun, kenapa dalam film yang notabeninya memiliki kekuatan entertain lebih juga ada beberapa yang menggambil jalur ‘alternatif’. Kebanyakan dai film horor Indonesia malah bukan mengambil topik horor. Mereka bukan lagi menyelipkan adegan porno malah langsung menampilkan adegan tersbut dengan terbukanya. Mana lembaga sensor yang berhak mengawasi hal tersebut. Apa mereka hanya tutup mata manyaksikan hal itu atau malah berbinar dan terangsang menyaksikannya?? Jauh harapan kedepan label tentang 17 tahun ke depan tidak akan ada. Karena tayangan yang tidak seharunya disajikan tidak berlaku untuk kategori usia apapun. Meski usia yang berlanjur dewasa belum tentu pemikiran turut dewasa. Maka, tayangan yang disajikan harus selalu menampilkan moral bangsa dan selalu memberika n pendidikan bagi pemirsanya.
Beragam budaya dan tempat wisata yang indah permai selalu tersandang oleh esbuah negara bernama Indonesia. Untuk itu, tanggung jawab kita sebagi pemiliknya setidaknya bersedia melestarikannya dengan tidak melupakan dan mau mempelajarinya. Hanya saja dengan ragam yanga ada haruslah ada sikap saling menghormati ketika banyak perbedaan budaya dalam satu negara. Tetap, Bhineka Tunggal Ika. Wujud lain dalam mempertahankan budaya juga dengan menjauhkan diri tetapi bukan berarti tak mengetahui terhadap budaya yang ada di luar Indonesia. Semua itu tentunya agar kita bisa menambah wawasan tentang dunia luar.
Pariwisata setidaknya memiliki nilai plus bagi pengunjung dari dalam negeri bukannya malah melarikan diri ke luar negeri. Rekreasi yang apik juga banyak ditampilkan di Negara ini, jauh lebih indah dibanding dengan yang lain. Maka usaha para pemilik pariwisata untuk menarik pengunjung adalah formalitas utama yang harus dilakukan. Selain itu pengembangan tempat wisata adalah tugas pemerintah untuk melakukannya. Dan warganya harus berkunjung ke sana.
Hakekatnya ketika pariwsata juga pasti akan ada alat transportasinya. Untuk itu perlu adanya fasilitas yang ada untuk menuju tempat wisata. Berkunjung dengan terhormat juga, tanpa melakukan tidakan-tindakan kecil yang akan berakibat besar pada tempat wisata yang didatangi.
Sementara untuk alat transportasi perlu adanya jalur angkutnya. Tak perlu muluk-muluk cukup kondisi jalan yang tidak membuat nyawa melayang. Itu saja. Karena dari fakta yang ada kebanyakan jalan di Indonesia sangat cepat berlobang. Lubang itu juga sering kali lama untuk segera diperbaiki. Dan ketika sudah diperbaiki entah apa yang melewati jalan tersebut, hingga satu minggu kemudian telah kembali berlubang. Masa selalu ada korupsi dalam tiap dana yang mengalir. Mana wujud kepedulian orang-orang berdasi pada kami, saudara sebangsa dan setanah air?? Apa nyawa manusia di Inonesia adalah harga mati yang tak punya arti??
Menyapa kematian, sungguh ironi karena pemerintah tak berdaya menangani bencana yang memang telah dikondisikan bahwa Indonesia adalah negara yang (lumayan) rawan bencana. Meskinya kita sebagi warga juga cepat tanggap agar bisa ‘sedia payung sebelum hujan’. Setidaknya permasalahan yang muncul akibata bencana memiliki tabungan sendiri agar ketika bencana ada (dan sangat tidak diharapkan) agar segera teratasi karena adanya subsidi yang tersimpan untuk bantuan.
Sebenarnya masih banyak lagi ungkapan yang ingin disampaikan hanya saja perlu banyak waktu lagi untuk menulisnya sedangkan saat ini masih ada waktu untuk berbenah diri. Maka, tulisan ini akan dilanjutan lain kali. Mari kita berjuang bersama membuat negara Indonesia menjadi maju. Pemerintah, aparat, dan rakyat bahu-membahu membangun  bumi pertiwii ini.




Salam Cinta untuk Indonesia tersayang,

IO
Rakyatmu yang akan selalu cinta padamu dan berusaha melakukan yang terbaik untuk Indonesia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar